Thursday, October 6, 2011

Aku pasti bisa!

Ada satu ruangan. Ruangan itu sangat sempit. Sinar remang-remang masuk ke ruangan tersebut. Di dalam ruangan itu terdapat 1 meja dan 1 kursi juga 1 kasur yang sudah rusak.

Tapi ada yang tinggal di ruangan itu. Andi namanya. Seorang anak 3 SMA yang hidup seorang diri. Dia adalah anak yang cerdas. Di sekolahnya, dia terkenal akan kepintarannya. Guru-guru pun senang kepadanya. Walaupun begitu, tetap saja ada yang tidak suka dengannya, bahkan banyak. Hingga Andi hanya mempunyai 1 teman baik, Alfian. Kemanapun Andi berada, disitulah Alfian. Begitupun sebaliknya.

Sebentar lagi mereka sudah akan lulus. Orang-orang sedang asik membicarakan universitas yang akan mereka pilih. Hanya Alfian dan Andi yang tidak ikut pembicaraannya.

Tiba-tiba teman mereka yang bernama Riki menghampiri mereka. "Hei, lu pada udah milih universitas? Mau kuliah dimana?" Riki bertanya dengan nada mengejek. Andi menjawab, "hmm.. Kami belum memutuskannya. Aku saja belum tentu mempunyai cukup uang."
"Tuh kan, gw udah nyangka. Hahaha!!!" Akhirnya pun semua orang di kelas menertawakannya. Andi dan Alfian tidak malu. Mereka bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Pesta kelulusan tinggal beberapa hari lagi. Semua teman-teman Andi sudah tau jurusan mereka masing-masing. Alfian memutuskan untuk tidak kuliah daripada membebani orang tuanya. Alfian memang orang yang kurang pintar. Hanya Andi yang masih bingung. Hanya satu hal yang ia bingungkan. Bagaimana cara membayarnya? Hingga lulus pun dia masih tidak tau.

Dia pun meminta pada bos tempat dia bekerja untuk membayar gajinya di awal bulan. Bos nya pun menyetujuinya. Betapa senangnya hati Andi. Dia langsung mendaftarkan dirinya di suatu universitas dan mengambil jurusan arsitek. Di bulan pertama dia dapat mengikutinya dengan baik. Sang dosen pun tertarik dengan kemampuan Andi. Dosen tersebut telah berpikir untuk memberikannya beasiswa. Hal ini diberitahukannya kepada Andi. Hati Andi seketika itu juga berbunga-bunga.

Semakin bulan, semakin baik nilai Andi. Tapi suatu kali, dia dituduh oleh teman-temannya mencuri uang sebesar Rp 500.000. Kabar ini pun sampai ke telinga dosennya. Dosen itu bertanya kepada Andi, "Andi, apakah betul kamu melakukannya?" Seketika itu juga Andi menentangnya. Dosennya itu pun mengecek tas Andi. Ternyata benar, uang itu ada di dalam tas Andi. Andi panik. Dosen itu segera mencabut beasiswanya.

Andi kecewa. Ia hanya berpikir tentang nasibnya. Tapi bagaimanapun juga, tidak ada lagi yang bisa dilakukannya. Dia pun berusaha meyakinkan dosennya bahwa dia tidak mengambil uang itu.

Hingga berapa lama, dosen itu menelponnya. Andi disuruh pergi ke universitas. Dengan hati berdebar-debar, dia pun datang.

Sesampainya di ruang kerja dosennya itu...
Dosen : Di, kamu tau mencuri itu tidak boleh?
Andi : Saya mengerti pak, tapi saya tidak mencuri.
Dosen : Saya percaya kok. Hahaha.
Andi : Hah? Serius pak?
Dosen : Iya. Kemarin salah satu dari temanmu memberitahu yang sebenarnya, dan setelah bapak tanya ke pelakunya, ternyata dia mengaku.
Andi : Jadi, saya diterima kembali pak?
Dosen : Oh tentu. Welcome back!

Andi kembali senang. Kali ini dia semakin giat dalam belajarnya. Beberapa tahun kemudian dia terkenal akan rancangannya. Jadi, tidak ada yang mustahil dalam meraih mimpi. Terus percaya :)

No comments:

Post a Comment